DETAIL BERITA

HASIL PENATARAN DENGAN KPPN BANDUNG

Post. By Pusdikku | 07 Mei 2015 | 11:38:52 | 926 Views

HASIL PENATARAN DENGAN KPPN BANDUNG

Oleh :LETKOL CKU ADI SUSETYO

BENDAHARA PENGELUARAN

  • MENTERI PERTAHANAN  mengangkat Bendahara Pengeluaran DIPA Petikan Satker Pusat
  • KA. UO mengangkat Bendahara Pengeluaran DIPA Petikan Satker Daerah atas usul Kepala Pembina Keuangan pada masing-masing UO.
  • Pengangkatan Bendahara Pengeluaran dengan Surat Keputusan dan  tidak terikat periode tahun anggaran.
  • Bendahara Pengeluaran TIDAK DAPAT DIRANGKAP oleh KPA, PPK, dan PPSPM
  • Surat Penetapan beserta spesimen BP disampaikan kepada PPSPM dan PPK, serta kepada Kepala KPPN dalam rangka penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ)
  • Dalam hal tidak terdapat pergantian Bendahara Pengeluaran, penetapan Bendahara Pengeluaran tahun anggaran yang lalu masih tetap berlaku
  • Dalam hal Bendahara Pengeluaran dipindahtugaskan/ pensiun/diberhentikan dari jabatannya/berhalangan sementara, Menteri Pertahanan/Kepala UO  menetapkan pejabat pengganti sebagai Bendahara Pengeluaran.
  • Bendahara Pengeluaran yang dipindahtugaskan/ pensiun/diberhentikan dari jabatannya/berhalangan sementara bertanggungjawab untuk menyelesaikan seluruh administrasi keuangan;

Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP)

Dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan anggaran, Menteri Pertahanan dapat menunjuk beberapa BPP sesuai kebutuhan

Penunjukan BPP dapat didelegasikan kepada Kepala Satker

BPP harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Bendahara Pengeluaran

Tugas BPP meliputi:

  1. Menerima dan menyimpan UP
  2. Melakukan pengujian dan pembayaran atas tagihan yang dananya bersumber dari UP;
  3. Melakukan pembayaran yang dananya bersumber dari UP berdasarkan perintah PPK
  4. Menolak perintah pembayaran apabila tidak memenuhi persyaratan untuk dibayarkan;
  5. Melakukan pemotongan/pemungutan dari pembayaran yang dilakukannya atas kewajiban kepada negara
  6. Menyetorkan pemotongan/pemungutan kewajiban kepada negara ke kas negara
  7. Menatausahakan transaksi UP
  8. Menyelenggarakan pembukuan transaksi UP
  9. Mengelola rekening tempat penyimpanan UP

 

UANG PERSEDIAAN (UP)

  1. UP digunakan untuk keperluan membiayai kegiatan operasional sehari-hari Satker dan membiayai pengeluaran yang tidak dapat dilakukan melalui mekanisme  Pembayaran LS.
  2. UP merupakan uang muka kerja dari Kuasa BUN kepada Bendahara Pengeluaran yang dapat dimintakan penggantiannya (revolving).
  3. Pembayaran dengan UP yang dapat dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran/BPP kepada 1 (satu) penerima/ penyedia barang/jasa paling banyak sebesar Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) kecuali untuk pembayaran honorarium dan perjalanan dinas.
  4. UP dapat diberikan  untuk pengeluaran-pengeluaran :

                a. Belanja Barang

                b. Belanja Modal

                c. Belanja Lain-Lain

  1. Pada setiap akhir hari kerja, uang tunai yang berasal dari  UP yang ada pada Kas Bendahara Pengeluaran/BPP paling banyak sebesar Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
  1. Bendahara Pengeluaran melakukan penggantian (revolving) UP yang telah digunakan sepanjang dana yang dapat dibayarkan dengan UP masih tersedia dalam DIPA.
  2. Penggantian UP tersebut dilakukan apabila UP telah dipergunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen).
  3. Bendahara Pengeluaran yang dibantu beberapa BPP, dalam pengajuan UP ke KPPN harus melampirkan DAFTAR RINCIAN yang menyatakan jumlah uang yang dikelola masing-masing BPP
  4. Setiap BPP mengajukan penggantian UP melalui Bendahara Pengeluaran, apabila UP yang dikelolanya telah dipergunakan paling sedikit 50% (lima puluh persen).

 

Ketentuan TUP

KPA dapat mengajukan TUP kepada Kepala KPPN dalam hal sisa UP pada Bendahara Pengeluaran  tidak cukup tersedia untuk membiayai kegiatan yang sifatnya mendesak/tidak dapat ditunda.

  1. Persetujuan TUP dilakukan oleh Kepala KPPN (nilai berapapun) dengan disertai:
    • Rincian Rencana Pengguna TUP; dan
    • Surat Pernyataan dari KPA  bahwa TUP:
  • digunakan dan dipertanggungjawabkan paling lama  1 (satu) bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan; dan
  • tidak digunakan untuk kegiatan yang harus dilaksanakan dengan pembayaran LS.
    1. Kepala KPPN melakukan penilaian atas pengajuan TUP meliputi:
    2. pengeluaran pada rincian rencana penggunaan TUP bukan merupakan pengeluaran yang harus dilakukan dengan pembayaran LS;
    3. pengeluaran pada rincian rencana penggunaan TUP masih/cukup tersedia dananya dalam DIPA;
    4. TUP sebelumnya sudah dipertanggungjawabkan seluruhnya; dan
    5. TUP sebelumnya yang tidak digunakan telah disetor ke Kas Negara.
    6. KPA dapat mengajukan permintaan TUP untuk kebutuhan melebihi waktu 1 (satu) bulan dengan pertimbangan kegiatan yang akan dilaksanakan memerlukan waktu melebihi  1 (satu) bulan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATEGORI

GALLERY